Monday, December 1, 2014

sumber daya alam dan lingkungan


A. Latar Belakang
Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Sumatera dengan Padang sebagai ibu kotanya. Sesuai dengan namanya, wilayah provinsi ini menempati sepanjang pesisir barat Sumatera bagian tengah dan sejumlah pulau di lepas pantainya seperti Kepulauan Mentawai. Dari utara ke selatan, provinsi dengan wilayah seluas 42.297,30 km² ini berbatasan dengan empat provinsi, yakni Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Bengkulu.
B. Tujuan
1. Mampu menjelaskan sumber daya alam, dan potensi sumber daya manusia yang terdapat di Sumatera Barat
2. Menjelaskan permasalahan yang ada di Sumatera Barat khususnya di bidang lingkungan hidup
3. Menganalisis berbagai bencana alam yang sering terjadi di Sumatera Barat
4. Mencari solusi dalam penyelesaian masalah
Provinsi Sumatera Barat terletak di pulau Sumatera, dengan Padang sebagai ibu kotanya. Sesuai dengan namanya, wilayah provinsi ini menempati sepanjang pesisir barat Sumatera bagian tengah dan sejumlah pulau di lepas pantainya seperti Kepulauan Mentawai. Dari utara ke selatan, provinsi ini berbatasan dengan empat provinsi, yakni Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Bengkulu.
Sumatera Barat mempunyai luas daratan 42.297,30 km2 yang setara dengan 2,17% luas Republik Indonesia dengan jumlah penduduk 5.283.163 jiwa. Provinsi ini diapit oleh dua pusat gempa utama yaitu patahan semangka yang berada di sepanjang Bukit Barisan dan zona subduksi yaitu pertemuan Lempeng IndoAustralia dengan Lempeng Eurasia ±250 km dari garis pantai ke arah barat. Provinsi ini juga memiliki 4 buah gunung berapi aktif. Sumberdaya air yang melimpah dengan jumlah sungai sebanyak 254 buah, bermuara di pantai timur dan barat pulau Sumatera dan dibagi dalam 6 satuan wilayah sungai (SWS) serta 4 danau besar. Provinsi Sumatera Barat memiliki luas perairan laut ±186.500 km2 dengan panjang garis pantai 2.420.357 km serta memiliki 375 buah pulau besar dan kecil.
Sumber Daya Alam yang ada di Sumatera Barat
Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam.
Adapun Flora yang terdapat di Provinsi ini sungguh sangatlah beragam, diantaranya Rafflesia arnoldii yang merupakan bunga terbesar di dunia, berbagai pohon pinus, kelapa sawit dan juga tanaman lain yang berdaya guna bagi kesejahteraan hidup masyarakat di sekitarnya. Seperti contohnya, kopi, cengkeh, jahe, beras dan bumbu-bumbu masak lainnya yang melimpah dan dapat dijadikan sumber penghasilan bagi penduduk yang mengolahnya dan memanfaatkannya.
Tidak itu saja. Di Sumatera Barat juga ada sumber daya alam yang melimpah dan berasal daer ah alam itu sendiri. Diantaranya pertambangan batu bara, batu besi, batu galena, timah hitam, seng, mangan, emas. Batu kapur (semen).kelapa sawit. Kakao, gambir dan juga hasil perikanan.
Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Sebagian besar wilayahnya masih merupakan hutan tropis alami dan dilindungi. Sumatera Barat juga mempunyai adat istiadat yang berbeda dari provinsi lainnya yang ada di Indonesia, yang menciri khas atau menggambarkan budaya dan juga keunikan tersendiri yang ada di Sumatera Barat. Sumberdaya alam adalah sumberdaya yang terbentuk melalui kekuatan atau gaya alamiah, misalnya tanah, air dan perairan, biotis, udara dan sinar surya atau matahari, mineral, bentang alam (landscape), panas bumi dan gas bumi, angin, pasang surut atau arus laut. Adapun Lingkungan hidup adalah sistem kehidupan dimana terdapat campur tangan manusia dalam mengelola sumberdaya alam yang ada disekitarnya. Pembangunan yang sedang dan akan dilakukan di Sumatera Barat hendaknya mempertimbangkan faktor Lingkungan dan sumberdaya alam yang ada.
 Pembangunan di daerah ini hendaknya selalu didasarkan kepada pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana. Makin banyak suatu daerah mempunyai sumberdaya alam dan dimanfaatkannya sumberdaya alam itu secara efisien, maka makin baiklah harapan akan tercapainya keadaan kehidupan dan kesejahteraan rakyat daerah ini dalam jangka panjang. Potensi sumber daya alam di Sumatera Barat tergolong cukup banyak. Daerah ini mempunyai daerah perairan laut yang cukup luas di sepanjang tepi barat pulau Sumatera dan adanya kepulauan Mentawai yang menjadi perisai untuk menahan gelombang Lautan Hindia yang cukup besar. Sumber daya alam dari laut seperti beraneka jenis ikan, budidaya kerapu, rumput laut, udang, kepiting dan mutiara masih sangat besar peluangnya untuk ditingkatkan. Aneka biota laut ini disamping untuk konsumsi, juga mempunyai potensi sebagai bahan baku industri terutama industri farmasi. Penelitian dalam bidang ini perlu dipacu agar biologi sumber daya laut yang ada dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan Masyarakat propinsi Sumatera Barat. Apalagi luas perairan laut Sumatera Barat mencapai 186.500 km2 dengan panjang garis pantai lebih kurang 2.420,385 km.

Potensi kelautan yang belum dimanfaatkan sama sekali adalah energi yang dihasilkan oleh ombak atau gelombang laut yang menghempas ke pantai. Energi kinetik dari ombak dan gelombang ini dapat dikonversikan menjadi energi listrik. Pembuatan Pusat pembangkit tenaga gelombang laut ini dapat dibuat dalam skala kecil, menengah dan besar. Adapun potensi air danau telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air diantaranya air danau Singkarak dan Maninjau dengan adanya PLTA Singkarak dan Maninjau serta yang baru dibangun adalah PLTA Koto Panjang di kabupaten 50 Kota.

Disamping dari energi gelombang dan ombak laut, energi surya juga melimpah di propinsi ini. Rata-rata penyinaran matahari dalam sehari antara 7 รข€“ 10 jam, jika saja energi surya ini dapat dikumpulkan dalam sel-sel penyerap panas matahari maka dapat digunakan untuk pembangkit listrik skala kecil dan menengah. Jika potensi sumberdaya alam yang berlimpah baik dari energi gelombang laut maupun energi surya, maka kebutuhan masyarakat akan listrik yang kian hari kian bertambah dapat dipenuhi.

Daerah daratan yang ada di Sumatera Barat terbagi atas daerah dataran tinggi dengan ketinggian antara 1.000 sampai dengan 2.500 m dpl yang terdapat di sebelah tengah-barat, serta daerah dataran rendah yang relatif sempit disepanjang pantai serta sebelah timur dengan ketinggian dari 1 hingga < 1,000 m. Cukup luasnya kawasan pegunungan atau dataran tinggi menjadikan lahan yang dapat diusahakan secara optimal untuk mekanisasi pertanian, pemukiman dan industri relative terbatas akibat kendala kelerengan lahan yang agak curam sampai sangat curam. Perbedaan topografi atau kelerengan yang cukup besar menjadikan kawasan dataran tinggi rentan terhadap bahaya longsor dan erosi.
Sumber daya alam terutama hutan yang ada di kepulauan Mentawai sangat berpotensi untuk diolah secara optimum dengan dilandasi sifat kehati-hatian agar kelestariannya terjaga untuk masa yang akan datang. Di lain pihak, potensi daerah pegunungan jika dimanfaatkan secara hati-hati, mempunyai potensi yang luar biasa Sumber daya alam di daerah pegunungan menyimpan kekayaan hayati hutan tropis yang sangat besar. Ketersediaan plasma nutfah asli daerah tropis belum terungkap sepenuhnya untuk kesejahteraan masyarakat seperti tumbuhan asli dan kandungan esensial yang ada mungkin dapat digunakan sebagai bahan pengobatan, bahan baku industri dan lain-lain. Kawasan pegunungan juga berpotensi untuk dijadikan daerah tujuan wisata alam asalkan pembukaan dan pengelolaannya dikerjakan dengan rencana yang baik. Daerah pegunungan tujuan wisata alam seperti di kabupaten Tanah Datar, Agam, Solok, dan kota Padang Panjang.

Potensi sumber daya air alami juga melimpah di daerah ini. Sumber air alami didapatkan dari 2 danau yang besar seperti danau Singkarak dan Maninjau serta 3 danau yang relative kecil seperti Danau Diatas, Dibawah dan Talang. Sumber daya air permukaan ini, baik yang berasal dari danau maupun sungai-sungai yang umumnya berasal dari mata air di pegunungan, diperkirakan mempunyai potensi 43 milyar m3. Potensi air bersih alami untuk sumber air minum mineral dapat dibuat di daerah sekitar G. Talang di Kabupaten Solok, G. Marapi dan G. Singgalang di kabupaten Tanah Datar, Agam dan Padang Panjang serta di G. Pasaman/Talamau di kabupaten Pasaman.

Potensi bahan galian, seperti deposit pasir dan batu gunung, liat silika dan besi oksida serta kapur sebagai bahan dasar industri semen, terdapat di kota Padang dan telah dimanfaatkan lebih dari 50 tahun oleh PT Semen Padang dan di daerah sekitar danau Singkarak di kabupaten Solok dan Padang Panjang. Deposit batu kapur yang bisa dieksploitasi di kota Padang Panjang tercatat sebanyak 43 juta ton. Kabupaten Padang Pariaman juga menyimpan potensi sumber daya alam galian seperti obsidian dan batu andesit.



Masalah Lingkungan di Kota Padang
Masalah Lingkungan Hidup Utama di Kota Padang, yaitu:
1. Banjir, Longsor dan Abrasi Pantai
2.PencemaranAir
3. Pencemaran Limbah padat
4. Degradasi Pesisir Pantai dan laut
5. Lahan Kritis dan Alih Fungsi Lahan
Kota Padang memiliki luas 69.496 Ha, dari luas tersebut 3.500 Ha merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap banjir, sekitar 50% -nya merupakan kawasan permukiman.
Kawasan pesisir Kota Padang yang terancam abrasi adalah; Purus, Ulak Karang, Pasir Air Tawar, Perupuk Tabing serta Pasie Nan Tiga. Kemunduran garis pantau di daerah tersebut mencapat 6 meter pertahun.
Limbah padat dari sektor permukiman diperkirakan sebesar 249 m3/hari, sedangkan total limbah padat berdasarkan jumlah penduduk diperkirakan 400 m3/hari. Sementara itu sarana dan pra sarana kebersihan masih kurang untuk mengatasi timbulan sampah harian tersebut.
Degradasi pesisir dan laut ditendai dengan pendangkalan dan sedimentasi muara sungai, pencemaran perairan pantai, intrusi air laut, menipisnya hutan mangrove, kerusakan terumbu karang serta hilangnya biota karang.
Berbagai kegiatan seperti perladangan berpindah, pertanian, pengembangan kawasan permukiman, perdagangan/jasa, serta alih fungsi kawasan lindung menjadi kawasan budidaya, menjadi penyebab semakin luasnya lahan kritis.
Bencana Alam
Kondisi geologis dan geografis di atas menyebabkan Sumatera Barat menjadi daerah yang memiliki potensi bencana seperti letusan gunung api, gempa, banjir, longsor (galodo), angin ribut, gelombang pasang dan tsunami.
Sumatera Barat memiliki sejumlah sengai besar yang mengalir dari daerah Bukit Barisan di timur menuju muaranya di Lautan Indonesia di barat. Secara tradisional, perkembangan penduduk dimulai dari tepitepi sungai besar seperti di Kabopaten dan Kota Solok, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Damasraya, Kabupaten Agam. Debit aliran yang tibatiba melonjak pada beberapa sungai di Sumatera Barat diperburuk dengan kondisi iklim dan geografis yang beragam, membuat ancaman bencana banjir dan longsor memiliki potensi yang tinggi. Kejadian banjir dan tanah longsor di Sumatera Barat telah banyak merenggut korban baik nyawa manusia maupun harta benda.
Daratan Provinsi Sumatera Barat pada bagian pantai berbatasan dengan Samudera Indonesia. Pertemuan daratan dengan lautan bebas tersebut membuat pantaipantai di Sumatera Barat telah dan akan terus masuk dalam siklus pergerakan air laut. Siklus ini akan memberikan ancaman abrasi pada pantaipantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Perkembangan wilayah hunian di wilayah pantai pada masa lalu memberikan risiko yang besar terhadap segala ancaman yang timbul dari lautan. Bencanabencana yang diakibatkan abrasi dan badai lautan telah dan akan terus berlangsung, sehingga ancaman bahaya ini akan terus diperhatikan dalam penanggulangan bencana di Sumatera Barat.
Dari segi Pemerintah
Pemerintah sudah seharusnya melakukan kegiatan preventif terhadap masalah-masalah yang terjadi di Sumatera Barat, seperti membuat perundang-undangan tentang Lingkungan dan pencemaran, dengan system diberlakukannya aturan yang tegas dan mengikat setiap warga masyarakat. Dengan hal ini diharapakan, rasa kesadaran masyarakat menjadi lebih tinggi dan lebih peka terhadap masalah yang terjadi di Lingkungan sekitarnya.
Dari hasil evaluasi yang dilakukan terhadap peraturan yang terkait dengan penanggulangan bencana, maka tampaknya pemerintah Sumatera Barat telah menyusun dan mensahkan sebuah Perda yang memang secara khusus mengatur tentang penanggulangan bencana, yaitu Perda Provinsi No.5 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Aturan ini cukup baik karena mengatur berbagai aspek mengenai penyelenggaraan penanggulangan bencana untuk setiap tahapan siklus bencana serta lembaga penanggulangan bencana dan juga tentang peran masayarakat, lembaga masyarakat serta lembaga internasional terkait dengan penanggulangan bencana di Sumatera Barat.
Masalah Lingkungan Hidup Utama di Kota Padang, yaitu:
1. Banjir, Longsor dan Abrasi Pantai
2. Pencemaran Air
3. Pencemaran Limbah padat
4. Lahan Kritis dan Alih Fungsi Lahan
Kondisi geologis dan geografis di atas menyebabkan Sumatera Barat menjadi daerah yang memiliki potensi bencana seperti letusan gunung api, gempa, banjir, longsor (galodo), angin ribut, gelombang pasang dan tsunami.
Dari hasil evaluasi yang dilakukan terhadap peraturan yang terkait dengan penanggulangan bencana, maka tampaknya pemerintah Sumatera Barat telah menyusun dan mensahkan sebuah Perda yang memang secara khusus mengatur tentang penanggulangan bencana, yaitu Perda Provinsi No.5 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Oleh sebab itu untuk menjamin kelangsungan pembangunan di Sumatera barat, maka perencanaan, penggunaan, pengelolaan dan penyelamatan sumber daya alam ini perlu dilakukan dengan lebih cermat. Faktor-faktor eksternal dan dampak lingkungan harus diperhitungkan. Hubungan-hubungan ekologis dalam tata lingkungan yang berlaku seyogyanya tidak diabaikan sehingga kelangsungan pembangunan dapat terjamin secara menyeluruh

Link :
http://mersi.wordpress.com/2012/11/26/masalah-lingkungan-di-kota-padang-dan-potensi-bencana-alam-di-sumatera-barat/
http://www.sumbarprov.go.id/index.php

No comments:

Post a Comment